Never Know The True Love
Rabu, Desember 16, 2009 | Author: Arman17
Sore itu aku duduk di tepi pantai
Memandang matahari terbenam
Mengagumi ufuk merah yang tercipta
Bahagianya aku karena bisa menikmatinya bersama cinta yag dititipkan Tuhan padaku

Perlahan mentari itu semakin menghilang
Cahaya ufuk merahpun berubah menjadi gelap
Gelap yang tidak kuharapkan tapi pasti terjadi
Dan aku sudah menyiapkan lilin untuk menyinariku karena hanya itu yang bisa kupersiapkan

Disaat sedang menikmati ufuk merah
Melintas seekor burung angsa dihadapanku
Aku memandangnya dan diapun memandangku
Aku takut, aku takut angsa itu hanya halusinasiku saja
Atau Tuhan sengaja memperlihatkannya untuk selalu kurasakan sinar putih yang terpancar dimatanya.

Aku bimbang, Tuhan seperti memberikan 2 titipan ini kepadaku
Aku pasrah, jujur aku tak sanggup menghadapinya
Aku sadar, Tuhan akan menunjukkan cahaya yang akan selalu menemaniku sebelum gelap datang mengganti ufuk merah