Sore itu aku duduk di tepi pantai
Memandang matahari terbenam
Mengagumi ufuk merah yang tercipta
Bahagianya aku karena bisa menikmatinya bersama cinta yag dititipkan Tuhan padaku
Perlahan mentari itu semakin menghilang
Cahaya ufuk merahpun berubah menjadi gelap
Gelap yang tidak kuharapkan tapi pasti terjadi
Dan aku sudah menyiapkan lilin untuk menyinariku karena hanya itu yang bisa kupersiapkan
Disaat sedang menikmati ufuk merah
Melintas seekor burung angsa dihadapanku
Aku memandangnya dan diapun memandangku
Aku takut, aku takut angsa itu hanya halusinasiku saja
Atau Tuhan sengaja memperlihatkannya untuk selalu kurasakan sinar putih yang terpancar dimatanya.
Aku bimbang, Tuhan seperti memberikan 2 titipan ini kepadaku
Aku pasrah, jujur aku tak sanggup menghadapinya
Aku sadar, Tuhan akan menunjukkan cahaya yang akan selalu menemaniku sebelum gelap datang mengganti ufuk merah
This entry was posted on Rabu, Desember 16, 2009 and is filed under
Never Know The True Love
. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: